MADRASAH DALAM KONTEKS GLOBALISASI PENDIDIKAN

MADRASAH DALAM KONTEKS GLOBALISASI PENDIDIKAN 

Studi terhadap Madrasah Pembangunan Ciputat, Tangerang Selatan

 

  1. Pendahuluan

 

Menghadapi globalisasi pendidikan, di antara para pemikir pendidikan ada yang bersikap pesimis dan ada juga yang optimis. Pandangan yang pesimis, diantaranya Kazamias (2001) menyebutkan bahwa di era globalisasi pendidikan seakan berada di persimpangan. Di satu sisi pendidikan secara ideal ditujukan untuk membentuk pribadi yang berpuncak pada kesempurnaan pikiran dan jiwa, di sisi lain tuntutan pasar menghendaki pendidikan diarahkan pada produksi pengetahuan instrumental dan penguasaan ketrampilan-ketrampilan khas pasar. Pandangan yang optimis, Menon (2007) menyebutkan meski globalisasi telah melahirkan berbagai hal negatif seperti komersialisasi pendidikan, ternyata ada beberapa keuntungan globalisasi bagi dunia pendidikan seperti munculnya kesadaran ketertinggalan praktik dunia pendidikan sejauh ini dan tuntutan pendekatan pendidikan yang lebih efektif dan memacu kompetisi.

Dalam konteks globalisasi, semua institusi sosial yang ingin survive dan tetap berperan dituntut untuk memahami posisi lembaganya dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Mengkaji institusi pendidikan dalam konteks globalisasi pendidikan,tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tema identitas, antitesi dari tema globalisasi. Castells (2010: 8) menyebutkan bahwa penguatan identitas banyak dilakukan oleh kekuatan sosial yang lemah sebagai bentuk usaha mencari pembeda dari (differ from) dan bentuk perlawanan (oppose to) dari kekuatan dominan. Dari pernyataan Castells, nampak ada dua usaha dalam melakukan resistensi identitas yaitu mencari pembeda dan mengambil sikap perlawanan dari kekuatan dominan yang ada. Penelitian ini mencoba menguji, benarkah proses resistensi identitas selalu dalam bentuk mencari pembeda dan mengambil sikap perlawanan?

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji bagaimana sebuah lembaga pendidikan mengambil posisi dalam konteks globalisasi pendidikan. Penelitian diarahkan pada sebuah jenis lembaga pendidikan di Indonesia yaitu madrasah. Gambaran umum madrasah di Indonesia merupakan fenomena lembaga pendidikan yang serba memprihatinkan. Beberapa tulisan mengenai madrasah sering menyoroti belum suksesnya lembaga pendidikan madrasah dalam membangun daya saing (Supriyoko, 2004; Saifudin, 2004; Djunaidi, 2005; Dahriman, 2002; Musahadi, 2002; Fata, 2006). Ada dua penyebab utama madrasah menjadi lembaga pendidikan yang tertinggal. Pertama, sebab internal adalah kurangnya daya pendukung baik dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), minimnya daya pendukung keuangan, dan lemahnya managemen organisasi (Saifudin, 2004; Djunaidi, 2005). Kedua, sebab eksternal, yaitu sikap diskriminatif pemerintah yang membedakan perlakuan antara sekolah umum dengan madrasah baik dalam pembinaan maupun dalam bantuan keuangan, di mana sekolah umum lebih diutamakan (Dahriman, 2002; Musahadi, 2002; Fata, 2006).

Namun dibalik gambaran madrasah yang terbatas itu, belakangan muncul beberapa madrasah yang berhasil menjadi lembaga pendidikan yang unggul, diminati bahkan oleh masyarakat kelas ekonomi menengah di perkotaan. Tidak hanya madrasah negeri seperti Madrasah Insan Cendekia Serpong, Madrasah Insan Cendekia Gorontalo, Madrasah Aliyah Negeri I Malang; terdapat juga beberapa madrasah swasta yang mampu menjadi madrasah pilihan di perkotaan seperti Madrasah Pembangunan Ciputat Tangerang, Madrasah Asih Putera Cimahi Bandung, Madrasah Amanatul Ummah Surabaya.

Untuk kepentingan penelitian ini saya menetapkan salah satu madrasah swasta, yaitu Madrasah Pembangunan Ciputat Tangerang sebagai obyek dalam studi kasus madrasah menghadapi globalisasi pendidikan. Dasar pertimbangan pemilihan ini adalah: pertama, madrasah ini berstatus swasta. Dengan status swasta berarti lembaga ini mengelola sendiri sumber pembiayaan pendidikan; Kedua, Madrasah Pembangunan berada di lingkungan ibukota Negara RI, Jakarta. Keberhasilan madrasah swasta di ibukota adalah kasus yang menarik dicermati, bagaimana para aktor didalamnya mengembangkan model pendidikan yang diminati oleh masyarakat perkotaan; ketiga, Madrasah Pembangunan dari kajian awal saya telah melakukan beberapa langkah dalam menghadapi globalisasi pendidikan seperti mengikuti penilaian ISO 9000, pengembangan website yang bisa diakses secara global, dan beberapa bentuk usaha lain yang searah dengan usaha merespon globalisasi.

 

  1. Perumusan Masalah

 

Madrasah di Indonesia secara umum sering dilihat sebagai lembaga pendidikan formal kelas dua yang tingkat kompetitifnya di belakang jenis lembaga pendidikan lain. Satu prediksi, banyaknya persoalan yang mengitari madrasah menjadi sebab mengapa lembaga pendidikan ini berat untuk bersaing dengan jenis lembaga pendidikan lain. Persoalan-persoalan itu antara lain label madrasah yang mengharuskan lembaga pendidikan ini memberikan materi pelajaran agama dalam porsi lebih yang kadang dipahami membebani peserta didik, hegemoni Negara dalam pendidikan nasional yang menuntut standarisasi dalam ukuran negara, sikap diskrimasi birokrasi pendidikan di pemerintah daerah yang sebelah mata dalam memberikan perhatian kepada madrasah dengan alasan lembaga ini termasuk lembaga vertikal dalam tata pemerintahan Indonesia, tantangan globalisasi yang menuntut kemampuan managemen satuan pendidikan dalam menghadapinya.

Globalisasi pendidikan mensyaratkan beberapa kesiapan institusi pendidikan untuk menghadapinya seperti kesiapan satuan pendidikan memenuhi standarisasi yang ada baik nasional maupun internasional, kesiapan dan kemampuan praktisi pendidikan menyeleksi nilai-nilai baik global maupun lokal untuk didiseminasikan kepada anak didik, kesiapan satuan pendidikan membangun image lembaga pendidikan yang berhasil di tengah keterbukaan media dan informasi. Institusi pendidikan di dalam konteks globalisasi pendidikan dituntut mengembangkan sistem pendidikan yang melahirkan lulusan yang berdaya saing dan kompetitif.

Di balik stereotipe umum mengenai madrasah ‘yang serba tertinggal’, ternyata ada beberapa madrasah yang mampu menarik minat masyarakat kelas ekonomi menengah di perkotaan dalam menyekolahkan anaknya. Salah satu madrasah yang dimaksud adalah Madrasah Pembangunan Ciputat Tangerang Selatan yang dijadikan subyek studi ini. Dalam studi awal (pre-research) peneliti, madrasah Pembangunan menunjukkan bahwa lembaga pendidikan ini mampu keluar dari gambaran umum madrasah yang serba tertinggal, lembaga ini berhasil memajukan diri (berprestasi), menjadi lembaga pendidikan pilihan masyarakat perkotaan.

Berangkat dari konteks seperti itu, permasalahan penelitian dirumuskan untuk mengetahui mengapa Madrasah Pembangunan dapat menjadi ‘madrasah unggul’ yang diminati, bahkan dianggap siap dalam konteks globalisasi pendidikan. Permasalahan ditelusuri dari tema ‘identitas’ sebagai pintu masuk memahami madrasah dalam memposisikan institusi ini diantara beberapa kepentingan yang hadir seperti agama, Negara, globalisasi dan kompetisi antar jenis dan satuan lembaga pendidikan. Selanjutnya rumusan permasalahan dirinci dalam pertanyaan: 1) Bagaimana identitas madrasah dikonstruksi oleh para aktor dan pendukung lembaga pendidikan Madrasah Pembangunan?; 2) bagaimana lembaga pendidikan Madrasah Pembangunan mengambil posisi (positioning) diantara kepentingan-kepentingan dan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi proses pendidikan?; dan 3) strategi apa saja yang dilakukan penyelenggara Madrasah Pembangunan dalam mensikapi tantangan global dan menjadikan lembaga ini berdaya saing?

 

  1. Kerangka Analisis

 

  1. Preview Research: Studi tentang Madrasah

Penelitian tentang madrasah di Indonesia, terkait dengan isu globalisasi pendidikan, menurut penulis belum banyak dilakukan. Karel A. Steenbrink (1974) secara garis besar belum terpengaruh oleh isu globalisasi. Buku ini termasuk buku awal yang mengkaji tentang perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, termasuk madrasah di dalamnya. Steenbrink menggambarkan bahwa ada dua pandangan apresiasi kontribusi madrasah terhadap sistem pendidikan nasional. Di lingkungan Kementerian Agama, sistem madrasah dianggap merupakan sumbangan kepada bangsa baik menurut tuntutan zaman modern maupun menurut Islam, meski diakui bahwa mata pelajaran umum belum diajarkan secara optimal; sebaliknya di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional, sistem madrasah sering tidak dihargai sebagai sumbangan besar terhadap sistem pendidikan.[1]

Maksum (1999) menyebutkan bahwa Madrasah secara historis adalah lembaga pendidikan yang lebih mengutamakan ilmu-ilmu agama. Namun mulai disadari mempertahankan tradisi keilmuan madrasah semata di tengah-tengah perkembangan sains modern justru dikhawatirkan akan mengancam eksistensi madrasah. Karenanya madrasah perlu menyesuaikan diri dengan pendidikan modern, sekalipun madrasah masih dituntut untuk menampilkan cirinya sendiri untuk memperhatikan ilmu-ilmu agama secara lebih proporsional. Sikap madrasah yang terlalu konservatif akan menyebabkan madrasah terasing, namun sikap madrasah yang terlalu akomodatif akan menyebabkan madrasah masuk dalam pendidikan sekuler. Menurutnya, perkembangan pendidikan Islam (madrasah) pada periode 1966-1998 menunjukkan adanya proses adaptasi yang tinggi.[2]

Supiana (2008) dalam Sistem Pendidikan Madrasah Unggulan mencoba mengkaji sistem pendidikan pada 3 (tiga) madrasah yang diminati masyarakat. [3] Dalam kajian ini, Supiana belum banyak menyinggung tentang apa yang terjadi pada madrasah terkait dengan tema globalisasi. Penulis hanya menyebutkan salah satu lembaga pendidikan madrasah unggulan, dengan contoh Madrasah Insan Cendekia Serpong, telah menetapkan tujuan pendidikan dengan standar internasional, dan mewujudkan peningkatan siswa yang berhasil pada kejuaraan olimpiade sains.

Rahmat Rais (2009), dalam Modal Sosial sebagai Strategi Pengembangan Madrasah mencoba memetakan bahwa belum berhasilnya lembaga pendidikan di Indonesia menghasilkan lulusan yang siap menghadapi dunia global adalah karena beberapa unsur pendidikan di lingkungan madrasah yang belum tergarap secara baik. Rahmat Rais mengidentifikasikan masalah bahwa kepemilikan human capital dan financial capital belum menjamin keberhasilan lembaga pendidikan. Menurutnya, modal sosial (social capital) adalah salah satu unsur pendidikan yang perlu dikembangkan, apalagi terkait dengan lembaga pendidikan madrasah yang mayoritas swasta. Berdasarkan kajian di Madrasah Aliyah I di Surakarta, Rahmat Rais berkesimpulan bahwa madrasah sebenarnya telah memiliki beberapa modal social (social capital). Modal sosial itu berupa kepercayaan (trust), jaringan (network), dan nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value). Terkait kepercayaan (trust), madrasah telah dipercaya masyarakat memberikan pembelajaran agama yang lebih bila dibandingkan dengan sekolah umum, di samping juga memberikan ketrampilan tambahan kepada murid apa yang dibutuhkan oleh masyarakat seperti ketrampilan mengajarkan dasar-dasar dan praktek agama secara sederhana, contohnya baca tulis al Qur’an. Terkait jaringan (network), madrasah memiliki beberapa bentuk jaringan seperti komunitas pendukung di masyarakat, jeringan dengan pemerintah daerah, dan juga Kementerian Agama sebagai lembaga Pembina madrasah selain Kementerian Pendidikan Nasional. Terkait nilai-nilai yang dimiliki bersama (shared value), madrasah memiliki budaya demokrasi dalam menentukan kebijakan madrasah, komunikasi kekeluargaan yang harmonis, kebebasan akademik, transparansi dan akuntabilitas. Kesimpulannya, adanya modal-modal sosial yang dimiliki ini, madrasah berpotensi untuk menjadi lembaga pendidikan alternatif.

Dari peta hasil dari beberapa kajian mengenai madrasah di atas, penelitian ini mencoba menambah kajian dari sisi bagaimana madrasah membangun posisi dalam konteks globalisasi pendidikan dan bagaimana identitas madrasah dikonstruksi?. Dari jawaban permasalahan ini akan diketahui bagaimana ikhtiar satuan madrasah mengambil posisi dalam rangka keluar dari gambaran umum madrasah yang serba tertinggal.

 

  1. Globalisasi Pendidikan

Diskusi tentang globalisasi pendidikan, Burbules dan Torres (2000) menyatakan beberapa kecenderungan penting dunia pendidikan dalam konteks globalisasi meliputi: 1) munculnya beberapa kebijakan popular seperti privatisasi, pilihan, dan desentralisasi sistem pendidikan yang menjadi arah pembentukan pendidikan dan pencapaian riset berbasiskan organisasi rasional dan teori managemen; 2) meningkatnya peran organisasi kependidikan baik nasional maupun internasional, seperti organisasi guru, organisasi orang tua dan gerakan sosial; 3) tersedianya beberapa bentuk beasiswa berdasarkan kelompok, kelas, negara (terkait tema misalnya multikulturalisme, permasalahan identitas, teori kritik, feminisme, poskolonialisme, komunitas diaspora dan gerakan sosial baru (2000: p. 18)

Denis Lawton dan Robert Cowen (2001) menyadari dampak dari tehnologi informasi yang telah melahirkan fenomena globalisasi, maka pada era itu pendidikan dituntut untuk mengembangkan nilai-nilai baru yang lebih humanis seperti munculnya kesadaran baru untuk mengembangkan moral bersama seperti ‘inklusivitas’, ‘pluralisme’ dan ‘kesamaan kesempatan.’[4]

Kazamias (2001) menyebutkan bahwa di era globalisasi pendidikan berada di persimpangan. Di satu sisi pendidikan secara ideal ditujukan untuk membentuk pribadi yang berpuncak pada kesempurnaan pikiran dan jiwa, di sisi lain tuntutan pasar menghendaki pendidikan diarahkan pada produksi pengetahuan instrumental dan penguasaan ketrampilan-ketrampilan khas pasar. Kazamias mempermasalahkan peta dunia pendidikan setelah mengalami globalisasi. Dunia pendidikan, dimulai dari pendidikan dasar hingga universitas, sebagai institusi sosial budaya dan berperan signifikan dalam masyarakat demokratik modern mengalami perubahan identitas dan peran mereka. Dari aspek sosial kultural, peran utamapendidikan sebagai pembentukan pribadi dan warga yang berpuncak pada ‘pikiran dan jiwa’, telah bermetamorfosis ke arah produksi pengetahuan instrumental dan penguasaan ketrampilan-ketrampilan khas pasar.

Pandangan lain, Hugh Lauder (2006) menyebutkan tema utama perdebatan pendidikan dewasa ini yang dia sebut sebagai era pasca kolonial (post kolonial) berpusat pada keperbedaan (diversity), inklusifitas and kewarganegaraan (citizenship). Dua kunci teoritis dan isu praktis pendidikan kontemporer, menurutnya meliputi isu demokratisasi dan perubahan ekonomi global. Dua tema ini yaitu demokratisasi dan ekonomi global berpengaruh pada dunia pendidikan ini tidak saja terjadi pada era saat ini, tetapi terjadi jauh sejak zaman kolonial (Lauder et al. 2006: 19).

Menghadapi globalisasi pendidikan, Waters (1995) mengidentifikasikan adanya dua tipe respon entitas lokal yang berbeda, yaitu: 1) penerjemahan ide-ide serta keyakinan-keyakinan yang terkait dengan globalisasi, yang menghasilkan bentuk sinkretisme; 2) penguatan kembali tradisi sebagai bentuk pertahanan terhadap dampak globalisasi, yang menghasilkan fundamentalisme (Waters, 1995: 165).

Menon (2007) menyebutkan meski globalisasi telah melahirkan berbagai hal negatif seperti komersialisasi pendidikan, ternyata ada beberapa keuntungan globalisasi bagi dunia pendidikan seperti: 1) kita harus mengakui bahwa sistem pendidikan saat ini telah ketinggalan. Metode pengajaran, kurikulum, peminat, departementalisasi yang miskin inovasi; 2) pelajaran bisa dipetik dari sisi bahwa dunia bisnis dan industri mampu selalu menciptakan produk baru yang bisa menggantikan produk lama baik dari sisi penampilan, kualitas dan semacamnya; 3) globalisasi memacu pengembangan baru dalam pendekatan yang dipilih organisasi dan hal-hal yang berfungsi efektif dalam dunia kompetisi (Menon, 2007: 33)

Goodlad (1984) menyatakan bawa pendidikan dilihat dari sisi orientasi, ada yang memfokuskan pada pemberdayaan individu peserta didik atau berorientasi pada tujuan personal (private goals), dan ada pula yang memfokuskan pada pencapaian tujuan kolektif (public goals). Pemikiran pendidikan yang berorientasi pada tujuan personal (private goals), yaitu pendidikan yang mengembangkan peserta didik dalam 4 tujuan: vocational, social, intellectual, dan personal.[5] Sebaliknya, pemikiran pendidikan yang berorientasi pada tujuan kolektif/umum (public goals) cenderung terikat dengan kepentingan kolektifitas masyarakat tertentu seperti Negara. Negara yang cenderung menekankan pengembangan ekonomi sebagai prioritas utama akan menciptakan model sekolah yang segaris dengan tujuan Negara dalam pembangunan ekonomi. Di sinilah terjadi kenyataan antara perbedaan sekolah yang berorientasi pada tujuan individu (private goals) dengan tujuan umum (public goals) (Joel Spring, 1989: 4-5).

Ickhen Safa mengangkat peran pendidikan dalam proses modernisasi dan integrasi nasional. Proses ‘national building’ meliputi konsolidasi tidak hanya pada aspek material, tetapi juga dalam wilayah ideologis, penekanan tidak hanya pada usaha mobilisasi dan pengembangan sumber-sumber daya yang dimiliki Negara melainkan juga usaha pencapaian pada konsensus ideologis yang mengikat orang dalam kebersamaan nilai-nilai dan tujuan.[6] Ickhen Safa mengutip salah satu antropolog yang peduli terhadap tema ‘nation building’ yaitu Julian Steward (1950, pp. 107-108) yang menyatakan bahwa proses integrasi sosio kultural tidaklah hanya penyatuan sejumlah dan perbedaan aspek-aspek masyarakat, tetapi juga pada perkembangan fungsi interdependensi antar aspek itu.[7]

Thomas F. Green (1971) mengajukan pertanyaaan: sebenarnya pendidikan massal itu untuk apa? Untuk kewargaan atau untuk kebutuhan sertifikasi? Menjawab pertanyaan ini, Green menggunakan pendekatan historis dalam menggambarkan fungsi pendidikan, dia juga melakukan kritik di mana pendidikan tidak semata-mata berfungsi sebagai pendidikan kewargaan (citizenship) tetapi juga mempunyai fungsi lain. Green kemudian mengembangkan tipologi bahwa pendidikan melayani dua kepentingan, yaitu: Pertama, merujuk Jeferson yang menyatakan bahwa fungsi paling fundamental dari pendidikan adalah berkaitan dengan pembangunan kewarganegaraan, pendidikan adalah usaha untuk membuat kesadaraan menjadi warga yang demokratis.[8] Kedua, selain sebagai pendidikan kewargaan Green mengemukakan kenyataan bahwa pendidikan juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sertifikasi kemampuan sebagai bahan pertimbangan untuk pemenuhan dunia pekerjaan.

Dari berbagai teori orientasi pendidikan, peneliti merumuskan benang merah urgensi pendidikan dalam konteks global adalah untuk membekali peserta didik dalam mensikapi nilai-nilai baru dari globalisasi, sertifikasi kecakapan dan pembentukan identitas. Studi ini lebih menitikberatkan pada kajian terhadap lembaga pendidikan dalam proses pembentukan identitas, dimulai dari mengkaji  bentuk konstruksi identitas sebuah institusi lembaga pendidikan, yaitu madrasah.

 

  1. Kontruksi Identitas: Perspektif Analisis

Untuk menganalisis positioning madrasah dalam globalisasi pendidikan, kajian ini menggunakan teori identitas sebagai perspektif analisis. Perspektif ini dipilih karena tema identitas merupakan tema antitesis dari tema globalisasi. Castells (2000) menyebutkan implikasi dari menguatnya globalisasi adalah munculnya kekuatan lain dari kesadaran manusia untuk menemukan kembali ‘self’ atau identitas mereka. Dalam proses konstruksi identitas baik terjadi pada individu atau kolektitifitas (termasuk institusi), tahap awal secara umum yang terjadi adalah proses penyesuaian dengan sesuatu yang di luar diri atau intitusi. Penyesuaian itu dapat berbentuk penerimaan terhadap sesuatu yang datangnya dari luar ataupun sesuatu reaksi penyesuaian dalam bentuk menolak sesuatu yang datangnya dari luar.

Diskusi tentang tema atau teori identitas, Gordon Marshall merumuskan dua pendekatan utama memahami identitas: psikhodinamis dan sosiologis. Pokok utama dari kedua pendekatan itu adalah diskusi menghadapi pendekatan esensialis yang membangun asumsi bahwa identitas adalah sesuatu yang unik, esensial dalam konteks ‘sesungguhnya saya (real me)’ yang koheren dan kurang lebih sama sepanjang hidup. Menghadapi asumsi ini, kedua pendekatan teori psikhoanalitis dan sosiologis mengembangkan asumsi bahwa di sana terdapat variasi derajat yang menunjukkan bahwa identitas adalah entitas yang dibentuk (constructed). Dalam pandangan Marshall, pendekatan psikhodinamik berkembang dari teori identifikasi Freud, di mana seorang anak manusia hadir ke dunia mengalami asimilasi dengan orang atau obyek lain, biasanya adalah superego dari orang tua. Di sisi lain pendekatan sosiologis memandang identitas sebagai sesuatu yang berkaitan dengan interaksi simbolik dan berkembang dari teori pragmatism yang dikembangkan oleh William James dan George Herbert Mead. [9]

Judith Friedman Hansen menyebutkan bahwa proses pendidikan mempunyai implikasi penting, yakni tidak hanya transmisi sistematik nilai-nilai pengetahuan, tetapi juga dalam pembentukan identitas baik personal maupun sosial. Identitas merujuk pada kategori-kategori yang digunakan partisipan untuk mendefinisikan seorang individu terkait dengan keberadaan kelompok ataupun pada kategori-kategori yang digunakan individu untuk mendefinisikan dirinya (Hansen, 1979: 145)

Implikasi proses pendidikan di sekolah terkait dengan pengembangan identitas, juga dipengaruhi oleh seting lembaga pendidikan tersebut. Thomas Barfield menyebutkan seting pendidikan itu bisa terkait dengan hubungan institusi pendidikan dengan institusi-institusi lain. Thomas Barfield mencontohkan bentuk keterkaitan institusi pendidikan dengan institusi lain itu seperti intitusi pendidikan dengan agama seperti yang terjadi pada masa-masa sebelum modern, keterkaitan institusi pendidikan dengan institusi ekonomi, keterkaitan institusi pendidikan dengan institusi militer (Thomas Barfield, 1977: 143-145).

Untuk melacak konstruksi identitas yang terbangun diantara para pendukung madrasah, saya mengambil studi pada masyarakat pendukung Madrasah Pembangunan Ciputat Tangerang. Mengutip Castells (2010: 8) yang menyebutkan ada tiga teori tentang identitas. Pertama, legitimazing identity, yaitu penguatan identitas yang dilakukan oleh institusi dominan untuk merasionalisasikan dominasi mereka berhadapan dengan kekuatan sosial lain; Kedua, resistansi identitas, yaitu penguatan identitas yang dilakukan oleh kekuatan sosial yang lemah sebagai bentuk usaha mencari pembeda dari (differ from) dan bentuk perlawanan (oppose to) dari kekuatan dominan; Ketiga, proyek identitas, yaitu penguatan identitas dengan merumuskan identitas baru bagi kelompok tertentu untuk menjelaskan posisi mereka dan mengusahakan transformasi ke struktur sosial.

Dari ketiga teori itu, disertasi ini menguji apakah konstruksi identitas pada subyek pendukung madrasah Pembangunan Ciputat Tangerang termasuk bagian atau mempunyai warna khusus dari ketiga teori itu. Perkiraan awal peneliti, kajian identitas pada Madrasah Pembangunan ini termasuk dalam kategori identitas yang beresistansi (resistance identity). Operasional jenis resistansi identitas ini adalah usaha penguatan mencari pembeda (differ from) dan perlawanan (oppose to) dari kekuatan dominan yang ada. Kekuatan dominan yang dimaksudkan dalam kajian ini adalah termasuk negara dan kekuatan global. Dari kerangka konseptual seperti itu, bagaimana madrasah mereproduksi identitasnya dan mengembangkan strategi pendidikan dalam memasuki globalisasi.

 

 

  1. D. Metode Penelitian

 

Penelitian ini saya mulai sejak tahun 2007, yaitu sejak disetujuinya proposal penelitian ini oleh Program Antropologi, Pascasarjana Universitas Indonesia. Untuk kepentingan penelitian ini saya tinggal di salah satu kompleks perumahan yang tidak jauh dari lokasi. Lokasi perumahan itu dengan lokasi Madrasah Pembangunan sekitar 4 Km. Secara kebetulan di komplek di mana saya tinggal banyak anak-anak yang menempuh studi di Madrasah Pembangunan. Dari lokasi ini saya bisa mengamati kesibukan anak-anak kompleks yang berangkat ke Madrasah Pembangunan, sekaligus saya dapat mengkonstruksi gambaran atau sejarah wilayah Ciputat, lokasi madrasah tersebut.

Jenis-jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi: 1) data primer, yaitu data terkait dengan makna, persepsi pelaku dan masyarakat pendukung Madrasah Pembangunan. Data ini lebih bersifat internal, yaitu data-data yang berkaitan dengan konstruksi makna dalam satuan pendidikan madrasah ini; 2) data sekunder, yaitu data-data mengenai makna-makna yang terkait dengan dunia antar madrasah, sebagai data pendukung untuk memperjelas persoalan.

Pengumpulan data penelitian di lapangan meliputi dua langkah, yaitu pertama,wawancara mendalam. Teknik ini digunakan untuk mengetahui persepsi, interpretasi serta tindakan yang muncul. Tehnik ini digunakan sebagai upaya memperjelas persoalan dan mengkonfirmasikan berbagai catatan atau data peneliti. Sumber informasi untuk mendapatkan data secara mendalam saya memilih tehnik melakukan wawancara mendalam terhadap 4 (empat) orang yang saya anggap sebagai informan utama. masing-masingnya memiliki pemahaman tertentu dan merupakan perwakilan dari unsur-unsur pendukung Madrasah Pembangunan. Keempat unsur itu terdiri dari unsur orang tua, guru, kepala Madrasah dan pimpinan Yayasan yang menaungi lembaga pendidikan tersebut.

Kedua, pengamatan terlibat. Pendekatan ini dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh informan utama dan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh madrasah Pembangunan. Pengamatan terlibat saya lakukan dengan cara: 1) mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh keempat informan utama tersebut dalam aktifitas yang berkaitan dengan Madrasah Pembangunan; 2) mengamati keseharian praktik sosial yang terjadi di madrasah sasaran yang melibatkan pada para anggota komunitas Madrasah meliputi siswa, orang tua, guru, pengurus sekolah.

Analisa dilakukan dengan tehnik prosesual, di mana peneliti mencoba menganalisis secara mengalir mengikuti tema, konteks dan ketersediaan data yang mendukung. Penulisan ini bermaksud melukiskan atau menggambarkan keadaan subyek penelitian berdasarkan data yang telah didapatkan. Sifat data yang digali lebih mengarah pada konsep emik, yakni membaca makna berdasarkan ukuran nilai masyarakat yang sedang diteliti (Pelto & Pelto, 1978: 55). Walaupun tidak dipungkiri dalam eksplanasi laporan ini penulis akui lebih bernuansa etik, mengingat dalam membaca kasus dalam konteks global menurut Marcus analisis cenderung berwarna etik (George Marcus, 1998). Secara terperinci peneliti ingin menguraikan hal-hal yang bersifat kualitatif mengenai image para praktisi madrasah yang bergerak dan berkontestasi, proses resistensi dan akomodasi terhadap kekuatan-kekuatan luar, proses kreasi dan reproduksi yang terjadi di madrasah (Burawoy et al. , 2000: 5). Analisa dilakukan dengan gaya prosesualisme yang menekankan pada aspek bagaimana seseorang atau orang-orang mengkonstruksi makna. Prosesualisme dimulai dari yang partikular dan melacak bentuk relasi yang melampaui waktu dan bentuk-bentuk variasi mereka (Borofsky 1994: 352).

 

  1. Data Lapangan

 

Merujuk Burawoy (2000) yang menyebutkan adanya tiga hal yang menjadi titik fokus kajian antropologi dalam konteks globalisasi, yaitu kekuatan, koneksi, dan imaginasi. Tiga hal ini akan menjadi fokus dalam analisa kasus dalam memahami globalisasi tertentu: manakala institusi memahami globalisasi sebagai sesuatu kekuatan luar maka dia akan melakukan resistensi atau akomodasi; apakah institusi berpartisipasi dalam kreasi dan reproduksi koneksi-koneksi yang lintas dunia, apakah imaginasi para pelaku institusi itu bergerak dan atau berkontestasi dalam dimensi global (Burawoy et al. , 2000: 5)

 

Peta Kekuatan

Dalam memetakan kekuatan-kekuatan yang dihadapi lembaga pendidikan dalam konteks globalisasi, Madrasah Pembangunan merumuskan berbagai tantangan pendidikan yang harus dihadapi baik itu dalam dataran ideasional (ide) maupun dalam dataran praktis. Dalam dataran ideasional, tantangan yang dihadapi Madrasah Pembangunan meliputi: 1) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 2) sangat cepatnya arus perubahan dan mobilitas antar dan lintas sektor serta tempat; 3) besarnya peran informasi; 4) Pegaruh globalisasi terhadap perubahan perilaku dan moral manusia; 5) Berubahnya kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan (Kurikulum MI Pembangunan UIN Jakarta, 2007).

Tantangan-tantangan tersebut dipetakan dalam empat kekuatan utama yang dihadapi madrasah pembangunan: 1) Globalisasi, yang ditandai pesatnya ilmu pengetahuan dan tehnologi serta besarnya peran informasi; 2) Negara dengan berbagai kebijakan pendidikannya; 3) Agama terkait dengan perubahan prilaku keagamaan masyarakat; 4) masyarakat atau konsumen sebagai pengguna pendidikan.

Dalam dataran praktis, kekuatan-kekuatan yang dihadapi oleh Madrasah Pembangunan meliputi : 1) menguatnya hegemoni Negara dalam dunia pendidikan; 2) menguatnya dominasi sekolah umum sebagai parameter pendidikan yang dianggap berhasil; 3) meningkatnya persaingan antar satuan pendidikan baik itu madrasah versus sekolah maupun madrasah versus madrasah.

 

Koneksi

Menghadapi kekuatan-kekuatan dan kepentingan-kepentingan yang hadir, maka muncullah beberapa bentuk koneksi yang mempengaruhi madrasah pembangunan dalam usahanya menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan diminati yang meliputi: 1) gagasan lembaga pendidikan unggul; 2) standar pendidikan yang disponsori negara; 3) standar managemen secara internasional.

Dalam menggagas pendidikan unggul, Madrasah Pembangunan pernah mempelajari beberapa lembaga pendidikan yang dianggap khas seperti lembaga pendidikan Al Azhar (jakarta) dan Lembaga Pendidikan Pabelan di Magelang. Dalam menggagas pendidikan standar pendidikan, Madrasah Pembangunan mengakomodasi beberapa tuntutan standar Pendidikan Nasional (SNP) dengan beberapa penguatan tertentu sebagai kreatifitas lembaga. Dalam menggagas standar managemen, Madrasah Pembangunan berpartisipasi standarisasi managemen secara internasional, yaitu dengan mengikuti ISO 9000 dan telah berhasil mendapatkannya dengan No. QSC 00863.

 

Imaginasi

Imaginasi yang berkembang diantara subyek Madrasah Madrasah, seperti orang tua siswa dan guru menunjukkan bahwa mereka telah menyadari adanya tantangan globalisasi pendidikan yang dihadapi. Globalisasi bagi mereka dipahami sebagai suatu arena yang terbuka yang bersifat mendunia atau internasional yang memungkinkan nilai baik dan buruk berkompetisi. Arena itu terjadi akibat dari berkembangnya tehnologi informasi dan komunikasi. Karena kekuatan tehnologi informasi dan komunikasi, maka sesuatu yang kecil bisa dibesar-besarkan, dunia bisa menjadi suatu kampung yang kecil (small village) yang berakibat semua yang berada pada kampung kecil itu bisa diakses. Globalisasi ini menurut mereka telah menjadi cara pandang atau cara berfikir banyak orang yang mempengaruhi sikap mereka sebagai konsekwensi dari cara berfikir seperti itu.

Dari subyek penelitian, didapatkan jawaban sikap yang dibutuhkan masyarakat dalam menghadapi globalisasi adalah: 1) menggunakan semangat kritis dan selektif dalam memilih lembaga pendidikan untuk anak. Pendidikan dalam konteks globalisasi menawarkan peluang dan tantangan sekaligus. Peluang globalisasi adalah membuat sasaran lembaga pendidikan, yaitu orang tua dan siswa semakin berfikir terbuka, universal, pluralis dan multicultural. Kondisi berdampak pada sebagian masyarakat yang semakin menghargai perbedaan. Sedangkan tantangan yang muncul dari globalisasi adalah berkembangnya nilai-nilai negative yang kadang harus disikapi dengan sikap ekstra hati-hati oleh masyarakat. Dalam budaya globalisasi, seseorang yang tidak kritis akan mudah terhempas. 2) Dalam mensikapi globalisasi, masyarakat perlu memberdayakan sifat-sifat kearifan lokal, termasuk kearifan yang bersumber pada agama. 3) Pendidikan dalam konteks globalisasi haruslah berkarakter.

Konstruksi Identitas Madrasah

Madrasah Pembangunan, yang berdiri tahun 1972, berhasil keluar dari gambaran umum madrasah yang serba tertinggal dan membuktikan diri menjadi lembaga pendidikan yang ungul dan diminati masyarakat kelas menengah di Jakarta dan sekitarnya. Sebagai gambaran, latar belakang ekonomi orang tua mayoritas kelas menengah ditandai kempuan bayar uang pangkal pendidikan untuk jenjang pendidikan dasar di atas 10 juta rupiah (84,1 % orang tua berpenghasilan di atas 2,5 juta); 78,7 % orang tua berpendidikan S1 ke atas. Madrasah ini telah berhasil membuktikan diri menjadi madrasah berprestasi terbaik I di tingkat nasional pada tahun 2005. Dari sisi prestasi siswa, di Bidang akademis, Madrasah Pembangunan pernah 4 tahun berturut-turut dimulai tahun 1988 -2001 meraih perolehan rata-rata Nilai Ebtas Murni (NEM) terbaik se DKI Jakarta untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah. Bahkan salah satu siswa Madrasah Pembangunan tingkat dasar telah berhasil mengantar salah satu siswanya, pada tahun 2009 sebagai salah satu juara olimpiade sains nasional di bidang matematika. Sementara di bidang non akademis, Madrasah Pembangunan telah mampu mengambil posisi yang menonkol pada lomba-lomba kegiatan non akademis yang di selenggarakan di wilayah Jabodetabek. Kegiatan-kegiatan seperti olahraga, seni, kreasi dan lomba-lomba yang bersifat keagamaan, Madrasah Pembangunan sering tampil sebagai juara.

Salah satu yang mendorong MP dapat keluar dari gambaran madrasah yang serba tertinggal, menurut pengkaji, adalah kesadaran identitas para aktor di belakang label ‘madrasah’ sebagai tipe/jenis lembaga pendidikan. Label ‘madrasah’ mendorong pendukungnya untuk membuktikan bahwa jenis lembaga pendidikan madrasah mampu menyelenggarakan pendidikan bermutu. Antara label ‘madrasah’ di satu sisi dengan stereotipe madrasah yang tidak menguntungkan memberi dorongan spirit tersendiri bagi pelaku Madrasah Pembangunan untuk membuktikan bahwa lembaga pendidikan madrasah mampu menyelenggarakan pendidikan secara maksimal, bermutu dan diminati.

Beberapa stereotipe yang membayangi kemajuan madrasah. Pertama, stereotipe bahwa nama madrasah sering diidentikkan sebagai pendidikan pinggiran (partikelir) yang merupakan warisan zaman kolonial sehingga tidak perlu didukung dana secara tetap oleh negara; Kedua, stereotipe bahwa madrasah merupakan lembaga yang hanya mengajarkan pendidikan agama sehingga untuk menjalankan pendidikan formal, madrasah dianggap tidak mampu bersaing dengan sekolah umum; Ketiga, stereotipe bahwa madrasah adalah hanya milik kementerian Agama yang dianggap sebagai lembaga vertikal sehingga tidak perlu dibantu oleh pemerintah daerah. Ketiga bentuk stereotipe ini menjadi kendala yang menguras energi tersendiri untuk membuktikan madrasah mampu menjadi lembaga penddidikan yang bermutu.

Menjawab semua permasalahan yang dihadapi Madrasah Pembangunan melakukan usaha penguatan lembaga pendidikan sebagai jawaban atas beberapa hal berikut: 1) konsekwensi memilih nama jenis lembaga pendidikan ‘madrasah’ sebagai arena pengabdian dalam dunia pendidikan; 2) tantangan untuk membuktikan bahwa label ‘madrasah’ mampu bersaing dengan lembaga pendidikan non-madrasah; 3) kebutuhan untuk memperkuat kekhasan madrasah.

‘Madrasah’ sebagai sebuah pilihan. Pemicu pertama penguatan identitas madrasah adalah terkait dengan pilihan label ‘madrasah’ sebagai jenis lembaga pendidikan. Pada awal pendirian MP pernah terjadi tarik menarik gagasan dalam menetapkan jenis lembaga pendidikan ini antara gagasan menggunakan nama ‘madrasah’ atau menggunakan nama ‘sekolah’ dengan diberi label Islam (Sekolah Islam).[10] Akhirnya, para pendiri sekolah ini lebih memilih nama madrasah sebagai usaha pembuktian identitas bahwa madrasah juga bisa maju. Apalagi mengingat kebanyakan para pendiri adalah pegawai negeri di Kementerian Agama. Dalam prinsip mereka, mereka akan bangun sekolah bermutu tapi dengan tetap berbentuk madrasah.

Tantangan madrasah untuk berdaya saing. Sebagai implikasi dari pilihan pertama, memilih jenis pendidikan madrasah, maka menjadi pemicu penguatan identitas berikutnya di madrasah adalah keinginan mewujudkan lembaga pendidikan madrasah mempunyai daya saing dibandingkan dengan sekolah lain. Pada kasus MP, dapat dinyatakan bahwa madrasah ini berusaha merintis lembaga pendidikan bermutu, dan ternyata madrasah ini berhasil mewujudkan daya saing lembaga yang bisa diperbandingkan dengan berbagai jenis lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, seperti sekolah umum dan sekolah umum yang berlatar belakang agama tertentu.[11] MP di Ciputat Tangerang merupakan lembaga pendidikan yang menerapkan tujuan pendidikan yang mengarah pada terbentuk individu atau lulusan yang diharapkan[12] dan terciptanya lembaga yang memadai bagi terciptanya center of learning. [13] Kedua tujuan itu dikemas dalam motto yang menjadi spirit lembaga pendidikan ini, yakni “basic science, bahasa dan akhlakul Karimah.

Kebutuhan mempertahankan kekhasan madrasah. Madrasah selain perlu mendongkrak kualitas di bidang sains umum, madrasah juga mempunyai pekerjaan rumah yaitu mempertegas kekhasan di bidang pembelajaran agama. Untuk menyelenggarakan pembelajaran agama sesuai dengan karakter madrasah dan mempunyai aktualitas dengan kehidupan modern, MP mengembangkan pembelajaran agama dengan pendekatan yang lebih bervariasi, seperti penambahan jam pelajaran agama, pengembangan sistem yang disebut hidden curriculum, pembelajaran agama di luar jam kelas, atau pendidikan keagamaan dalam kegiatan khusus. Pendekatan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) ini diwujudkan dalam bentuk membuat alokasi waktu sebelum pembelajaran dimulai setiap harinya dengan aktivitas kecil keagamaan seperti baca kitab suci, hafalan do’a, nasehat kecil dan sebagainya. Pendekatan lain adalah pembelajaran agama yang diberikan di luar jam kelas, kegiatan periodik seperti perayaan hari besar agama.

Globalisasi di satu sisi menunjukkan bukan saja semakin ketatnya persaingan kemampuan diri baik individu maupun institusi, tetapi juga semakin terbuka pintu-pintu yang mengarah pada perusakan moral. Madrasah sebagai lembaga pendidikan telah menjadi alternatif yang memiliki peranan penting dalam pembentukkan watak, kepribadian peserta didik. Penguatan nilai-nilai keagamaan tidak berarti anti dengan perubahan yang terjadi. Warna pendidikan keagamaan yang ditawarkan MP adalah warna pemahaman Islam yang toleran, demokratis dan inklusif.

Adanya beberapa pemicu (trigger) identitas sebagaimana disebutkan di atas, melahirkan dorongan penguatan identitas yang terjadi di Madrasah Pembangunan Ciputat Tangerang Selatan. Penguatan identitas para subyek madrasah ini diperlukan untuk menghadapi tiga bentuk stereotipe yang membayangi kemajuan madrasah. Pertama, stereotipe bahwa nama madrasah sering diidentikkan sebagai pendidikan pinggiran (partikelir) yang merupakan warisan zaman kolonial sehingga tidak perlu didukung dana secara tetap oleh negara; Kedua, stereotipe bahwa madrasah merupakan lembaga yang hanya mengajarkan pendidikan agama sehingga untuk menjalankan pendidikan formal, madrasah dianggap tidak mampu bersaing dengan sekolah umum; Ketiga, stereotipe bahwa madrasah adalah hanya milik kementerian Agama yang dianggap sebagai lembaga vertikal sehingga tidak perlu dibantu oleh pemerintah daerah. Ketiga bentuk stereotipe ini menjadi kendala yang menguras energi tersendiri untuk membuktikan madrasah mampu menjadi lembaga penddidikan yang bermutu.

Beberapa penguatan identitas di madrasah ini mengambil bentuk: pertama, Madrasah Pembangunan menggagas menjadi lembaga pendidikan yang berbeda bila dibandingkan dengan sekolah umum; Kedua, Madrasah Pembangunan menginginkan nilai lebih bila dibandingkan madrasah lainnya; Ketiga, Madrasah Pembangunan mencoba meningkatkan legitimasi dengan mengafirmasi beberapa tuntutan standarisasi oleh negara.

Madrasah Pembangunan menggagas lembaga pendidikan yang berbeda dengan sekolah umum, yaitu dengan memberikan porsi lebih dalam pembelajaran agama bila dibandingkan dengan sekolah umum.[14] Sebagai bukti, sebagian masyarakat memilih menyekolahkan anak ke madrasah, dan tidak ke sekolah umum, karena didorong keinginan mendapatkan pelajaran agama lebih banyak. Menurut orang tua murid, kalau madrasah tidak lagi bisa memberikan porsi yang cukup dalam pembelajaran agama, maka tidak ada alasan lagi orang tua memilih madrasah.

Madrasah Pembangunan ingin memberikan warna/karakter yang lebih bila dibandingkan dengan madrasah yang lain. Dengan Motto more than just islamic school, MP menginginkan nilai lebih dan lebih berprestasi bila dibandingkan dengan madrasah lainnya. Salah satu yang membedakan MP dengan madrasah lain adalah MP mengembangkan model pembelajaran agama yang lebih fungsional. Artinya MP lebih menekankan lahirnya sikap keberagamaan yang bisa lebih dilihat, dihayati dan dirasakan, daripada penguasaan agama secara verbal. Untuk melahirkan sikap keberagamaan seperti itu, pihak MP dengan segala cara untuk mewujudkannya. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam penanaman nilai adalah melalui penerapan kurikulum tersembunyi (hiden curriculum). Hiden curriculum ini diwujudkan dalam bentuk alokasi waktu sebelum pembelajaran dimulai dengan aktivitas kecil keagamaan seperti baca kitab suci, hafalan do’a, nasehat kecil dan sebagainya.

Mencari legitimasi baru untuk penguatan identitas. Madrasah selain nama jenis lembaga ini membawa muatan yang syarat dengan identitas terkait dengan sejarah, madrasah dalam penguatan identitas juga melakukan mencari legitimasi identitas, yaitu dengan mencoba bertaruh di wilayah-wilayah terbuka seperti dalam hal mengembangkan pendidikan standar. Salah satu tuntutan negara untuk menjadi lembaga pendidikan yang standar, adalah pemenuhan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang dikeluarkan oleh negara. Terhadap regulasi mutu yang diatur oleh Negara, MP mengambil sikap menerima dengan ketentuan itu. Namun dalam rangka memenuhi harapan orang tua dan pasar, MP melakukan usaha yang ekstra untuk memenuhi harapan orang tua dalam pembelajaran agama dan ketrampilan utama yang diperlukan dalam menghadapi kompetisi global. Untuk itu MP mengembangan motto “Basic Science, Bahasa, dan Akhlakul Karimah,” yang dimaksudkan sebagai konsentrasi pengembangan di bidang sains, agama dan penguasaan bahasa.

Implikasi penguatan identitas pada Madrasah Pembangunan melahirkan anasir konstestasi madrasah dengan kekuatan-kekuatan berikut a) kontestasi MP dengan satuan pendidikan madrasah yang lain; b) kontestasi MP dengan satuan sekolah umum yang sederajat; c) kontestasi MP dengan satuan sekolah umum Islam yang sederajat seperti sekolah dasar Muhammadiyah, Sekolah Dasar Islam Terpadu dan sekolah dasar Islam yang bernaung pada yayasan berlatar belakang keagamaan tertentu.

 

  1. Positioning Madrasah

Keberhasilan Madrasah Pembangunan membidik segmen masyarakat kelas sosial ekonomi menengah perkotaan, berdasarkan kajian ini ditentukan dan diawali oleh kesadaran ‘identitas’ praktisi pendidikan yang mengingginkan bahwa lembaga pendidikan berlabel ‘madrasah’ mampu menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan diminati. Kesadaran identitas mendorong praktisi Madrasah Pembangunan melakukan penguatan posisi (positioning) diantara beberapa kekuatan yang melingkupinya.

Peta kekuatan yang mengitari madrasah Pembangunan bisa disebutkan: persepsi masyarakat lokal, birokrasi pendidikan, dan persaingan antar satuan pendidikan setingkat. Masyarakat lokal di wilayah Ciputat adalah masyarakat urban yang berasal dari daerah yang sedang bertaruh hidup di Ibukota. Persepsi masyarakat urban cenderung memilih lembaga pendidikan yang bermutu untuk menyiapkan anak mereka ke depan.

Birokrasi pendidikan di Indonesia sejauh ini, pelaksana pendidikan formal tingkat dasar dan menengah di Indonesia diselenggarakan oleh dua jenis lembaga pendidikan yaitu sekolah dan madrasah dengan dua kementerian sebagai pembinanya yaitu sekolah dibina Kementerian Pendidikan Nasional dan madrasah dibina Kementerian Agama. Birokrasi pendidikan yang berperan memberikan pelayanan secara umum, menjadi tantangan tersendiri bagi satuan madrasah yang ingin unggul.

Sedangkan dalam konteks kekuatan persaingan antar satuan pendidikan, ada beberapa lembaga pendidikan sederajat yang di satu sisi bisa merupakan mitra sekaligus di sisi lain adalah kompetitor. Di sekililing MP telah hadir beberapa lembaga pendidikan dasar yang cukup bersaing seperti Sekolah Dasar Al Fath di Cireundeu; Sekolah Dasar Internasional Karisma Bangsa (Turki), MI Negeri Ciputat, SD Muhamadiyah 1 Pamulang, SD Bakti Mulia Lebak Bulus.

Untuk menjadi lembaga pendidikan yang mampu menjawab semua tantangan yang ada, maka Madrasah Pembangunan melakukan positioning tertentu dengan dilakukan usaha-usaha dalam mencapai beberapa gagasan berikut: 1) gagasan menjadi lembaga pendidikan unggul; 2) gagasan memenuhi standar pendidikan yang disponsori negara; 3) gagasan pendapatkan pengakuan layanan managemen secara internasional.

Langkah-langkah yang pernah dilakukan dalam mengejar gagasan tersebut, Madrasah Pembangunan pernah mempelajari beberapa lembaga pendidikan yang dianggap khas seperti lembaga pendidikan Al Azhar (jakarta) dan Lembaga Pendidikan Pabelan di Magelang. Dalam menggagas pendidikan standar pendidikan, Madrasah Pembangunan mengakomodasi beberapa tuntutan standar Pendidikan Nasional (SNP) dengan beberapa penguatan tertentu sebagai kreatifitas lembaga. Dalam menggagas standar managemen, Madrasah Pembangunan berpartisipasi standarisasi managemen secara internasional, yaitu dengan mengikuti ISO 9000 dan telah berhasil mendapatkannya dengan No. QSC 00863.

 

  1. Strategi Pendidikan

Menghadapi kekuatan-kekuatan di atas, Madrasah Pembangunan mencoba melakukan akomodasi tertentu sekalipun tren besarnya termasuk dalam kategori madrasah melakukan resistensi. Madrasah Pembangunan dalam beberapa hal mencoba bersikap realistis dengan merespon tuntutan baru terkait dengan tantangan yang dihadapi, namun tetap bersikap selektif. Beberapa prasyarat terkait dengan kemajuan tehnologi dasar informasi seperti komputer dikenalkan sejak dini, namun beberapa akses informasi seperti internet dan HP dikenalkan dan digunakan dalam porsi terbatas dengan kriteria-kriteria yang ditentukan.

Dalam melakukan positioning dalam menghadapi kekuatan-kekuatan yang ada, kajian menemukan bahwa Madrasah Pembangunan berhasil membidik kelas menengah perkotaan sebagai masyarakat pendukungnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh dua strategi utama, yaitu: pertama, memperbaiki kinerja layanan kependidikan; dan kedua, membangun image madrasah.

 

  1. Memperbaiki Kinerja Layanan Kependidikan

Untuk perbaikan kinerja layanan, Madrasah Pembangunan memulai dengan pengembangan visi dan misi Madrasah yang tanggap dengan wacana globalisasi. Visi madrasah Pembangunan adalah: “Menjadikan Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah terdepan dalam pembinaan keislaman, keilmuan dan keindonesiaan dengan mengapresiasi potensi-potensi anak serta perkembangan era globalisasi.

Misi. Rumusan misi disusun sebagai jawaban: bagaimana institusi madrasah merespon pandangan dan harapan masyarakat terhadap pendidikan dalam konteks globalisasi.[15] Dalam naskah resmi Buku Panduan Madrasah disebutkan bahwa madrasah ini dalam konteks globalisasi merumuskan misi: 1) melahirkan lulusan yang kompetitif; 2) menyediakan kurikulum yang apresiatif terhadap kecenderungan globalisasi; 3) tenaga pendidikan yang berkemampuan komunikasi global.

Misi pertama MP dalam menghadapi globalisasi adalah melahirkan lulusan yang kompetitif. Lulusan kompetitif ini dijelaskan lebih rinci meliputi anak didik yang mempunyai keunggulan komparatif, memiliki keseimbangan kekuatan jasmani dan rohani, memiliki kemandirian dan kemampuan bekerja dalam teamwork. Butir-butir ini dapat dilihat dari butir 1, 2, dan 3 dari tujuan Madrasah Pembangunan.

 

Tujuan Madrasah Pembangunan: 1) Melahirkan lulusan yang beriman dan bertaqwa dengan kemampuan kompetitif serta memiliki keunggulan-keunggulan komparatif; 2)…; 3)…; 4)…; 5) Mewujudkan siswa yang memiliki keseimbangan antara kekuatan jasmani dan kekuatan rohani serta kepekaan sosial; 6) Mewujudkan siswa yang mandiri dan mampu melakukan teamwork melalui berbagai aktifitas belajar intra maupun ekstra kurikuler.

 

Misi kedua MP dalam menghadapi globalisasi adalah menyediakan kurikulum yang apresiatif terhadap kecenderungan globalisasi. MP dalam rangka menghasilkan anak didik yang sesuai dengan tujuan, berusaha membenahi diri dengan melakukan perubahan dan perombakan kurikulum guna memenuhi tuntutan perkembangan zaman sebagai konsekuensi dari trade mark MP. Menghadapi globalisasi, MP menawarkan model pendidikan yang membangun basis keunggulan pada basic sains, bahasa, akhlakul karimah. Tiga basis ini sekaligus menjadi trade mark yang menjadi dagangan MP sekaligus menjadi motto madrasah: “Basic Science, Bahasa, dan Akhlakul Karimah. ”

Misi ketiga MP menatap globalisasi adalah menyediakan tenaga pendidik yang mempunyai kemampuan komunikasi global. Menurut keterangan Kepala Madrasah, dalam menghadapi globalisasi, lembaga pendidikan hendaknya mempersiapkan guru sedemikian rupa supaya faham apa yang harus dilakukan dalam menyiapkan anak didik di era global.

 

… para guru harus memahami paradigma mengajar yang dibutuhkan, tersedianya sarana prasarana yang memadai, dan managemen…. [16]

 

Dalam meningkatkan pemahaman paradigma mengajar, Menurut Kepala MP, para guru dituntut memahami isu-isu atau wacana-wacana baru mengenai pendidikan. Dengan terbangunnya atau sadarnya para guru terhadap tantangan dan tema-tema pendidikan di tingkat dunia, maka secara otomatis para guru akan memacu diri untuk paham dan berkreasi dalam pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan.

Sarana prasarana yang dibutuhkan untuk sebuah lembaga pendidikan dalam konteks globalisasi adalah ketersediaan laboraturium yang standar, tersedianya tehnologi informasi atau IT yang memadai, juga didukung oleh prasarana kebahasaan yang mencukupi. [17]

Managemen, untuk memenuhi lembaga pendidikan yang syarat untuk memenuhi dunia global adalah manegemen pendidikan sedemikian rupa. Kepala Madrasah menyebutkan Total Quality Management (TQM) merupakan model managemen yang perlu dikembangkan dalam menghadapi globalisasi. TQM karangan Sallis merupakan buku yang dirujuk untuk kepentingan itu. Salah satu target capain di bidang managemen adalah tahun 2009 MP akan berusaha untuk mengejar sertifikasi standar ISO 9000.

 

  1. Membangun Image Madrasah

Selain beberapa inisiasi yang dilakukan Madrasah Pembangunan terkait dengan isi (content), Madrasah Pembangunan menyadari bahwa media informasi dan komunikasi memainkan peranan penting dalam mensukseskan pendidikan. Dari penelitian ini saya mencatat beberapa langkah Madrasah Pembangunan dalam membangun image yang dikomunikasikan melalui media informasi atau menciptakan kesan tertentu terkait dengan suasana madrasah. Beberapa langkah yang saling mendukung dalam menciptakan image tentang madrasah pembangunan itu diantaranya: visualisasi aktivitas madrasah melalui media informasi, pembangunan sarana prasarana pendidikan yang megah, kesan pendidikan bahasa asing diajarkan sejak dini, kurikulum muatan lokal yang strategis, kegiatan ekstra kurikuler yang variatif.

 

Visualisasi melalui Media Informasi. Visualisasi melalui media informasi dilakukan dengan tampil di siaran tv adalah melalui VCD dan majalah sekolah. MP mencoba membangun image dengan sering membuat profil sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang modern, lembaga pendidikan Islam alternatif yang dilengkapi sarana prasarana yang relatif lengkap dan berkarakter. Saya merasa usaha visualisasi melalui VCD ini merupakan pintu masuk menarik perhatian bagi siapa saja yang menontonnya. Kombinasi visualisasi aktivitas pelajar, gagasan-gagasan para pelakunya serta lagu-lagu heroik sebagai soundtrack-nya akan membuat kesan tersendiri bagi yang melihat VCD tersebut.

Sarana Pendidikan yang Megah. Kesan menarik muncul ketika kita berkesempatan mendatangi lokasi dengan melihat Gedung MP. Gedung madrasah dibangun dengan kesan bangunan yang laiknya kampus perguruan tinggi, gedung bertingkat, lokasi yang cukup luas. Penampilan lembaga pendidikan seperti itu rasanya memang diperlukan dalam menarik perhatian masyarakat perkotaaan. Kemegahan gedung memberikan gengsi tersendiri bagi siapa saja yang menjadi bagian di dalamnya. Bagi orang tua akan bangga kalau mampu menyekolahkan anaknya ke lembaga tertentu yang memiliki gedung yang megah, demikian juga anak merasa bangga menjadi bagian dari lembaga tersebut.

Pembelajaran Bahasa Asing Sejak Dini. Salah satu usaha penguatan kinerja dan image Madrasah Pembangunan adalah pemberian pembelajaran bahasa asing sejak dini. Ada dua bahasa asing yang diajarkan di sana, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Untuk mengenalkan bahasa asing sejak dini, Madrasah Pembangunan mengajarkan bahasa asing seawal mungkin. Dulu pelajaran ini diberikan di kelas III madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), sekarang telah diajarkan bahkan di kelas I. Penguasaan bahasa asing merupakan salah satu usaha pembangunan image lebih terhadap Madrasah Pembangunan ini.[18]

 

Kegiatan Eskul (Ekstra Kurikuler) Yang Bervariasi. Dari daftar program kegiatan ekskul yang ditawarkan melalui selebaran yang harus diisi oleh siswa, saya membaca banyak sekali kegiatan yang disediakan di Madrasah Pembangunan Ciputat. Kegiatan-kegiatan itu meliputi: dokter kecil, pramuka, karate, seni lukis, seni tari, seni musik, marching band, jurnalistik (reporter al ashri) kelompok peduli lingkungan (KPL), Regu Inti Andalan (REGINTA), sepakbola/futsal, bola basket, renang, tennis meja hingga seni membaca al Qur’an. Penampilan berbagai kegiatan ekstra kurikuler menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk lebih mengenal lembaga pendidikan madrasah.

 

Perubahan logo untuk branding. Logo MP yang semula bermotifkan bangunan segi lima merubah logonya menjadi logo yang bermotifkan bola dunia. Ini merupakan salah satu bentuk simbolisasi semangat mendunia dari keluarga besar Madrasah Pembangunan. [19]

 

 

  1. Temuan Penelitian

 

  1. Arena Penguatan Identitas Madrasah

Dalam konteks penguatan identitas madrasah, peneliti melihat paling tidak ada tiga isu utama sebagai arena penguatan identitas madrasah dalam konteks Ketiga tema itu adalah tema sumber pembiayaan, tema mutu, dan tema kekhasan identitas. Tema sumber pembiayaan telah mendorong madrasah berusaha berintegrasi dengan sistem yang dibangun oleh Negara. Sebaliknya Negara juga berusaha untuk menyatukan semua jenis pendidikan masyarakat berada dalam sistem yang dibangunnya. Pada tema mutu, Negara mencoba mengkontrol kualitas mutu pendidikan melalui perumusan standar mutu dan mengukur capaian indikator kelulusan siswa melalui penerapan Ujian Akhir Nasional (UAN). Madrasah sebagai bagian dari pelaku pendidikan juga mencoba mengikuti apa yang telah digariskan oleh Negara, yaitu mengikuti standar yang ditetapkan dan mengikuti ujian Negara. Madrasah selain mengakomodasi sistem pendidikan nasional yang dikembangkan, lembaga ini juga berusaha memenuhi harapan ‘mutu’ dari masyarakat pendukungnya, yaitu agar madrasah bertahan dengan porsi lebih pendidikan agama di madrasah. Pada tema identitas, Negara berkepentingan untuk mengembangkan nilai-nilai kebangsaan melalui penanaman nilai-nilai seperti nilai demokrasi dan multicultural, madrasah dalam beberapa sisi menerima nilai-nilai kebangsaan, namun di sisi lain juga madrasah terus menjaga kekhassn sebagai lembaga yang menjadikan pelajaran agama sebagai muatan identitasnya.

 

  1. Strategi Pendidikan dalam Konteks Global

Untuk menghadapi globalisasi, lembaga pendidikan perlu melakukan dua hal: pertama, lembaga pendidikan perlu membangun kinerja (sistem kerja) pendidikan yang membekali peserta didik siap menghadapi globalisasi; kedua, lembaga pendidikan perlu melakukan upaya pembangunan image (building image) sedemikian rupa menghadapi bangunan-bangunan image yang berkontestasi yang saling memperebutkan opini dalam menggambarkan citra lembaga pendidikan. Pada kasus Madrasah Pembangunan, usaha yang dilakukan dalam meningkatkan kinerja kependidikan, lembaga pendidikan ini merancang visi dan misi pendidikan yang lebih fokus. Madrasah Pembangunan mencoba memfokuskan pembelajaran berdasarkan tiga pilar yaitu pengembangan basic sains, pengembangan akhlakul karimah, dan pengembangan bahasa. Usaha pembangunan image dilakukan melalui beberapa cara seperti penggunaan media elektronik seperti tampil dalam acara tv, pembangunan gedung yang megah, kelengkapan kegiatan pendukung.

 

  1. Warna Lain Teori Identitas

Apa yang dilakukan oleh Madrasah Pembangunan dalam konteks globalisasi pendidikan di atas, menunjukkan bahwa Madrasah Pembangunan telah ikut berperan dalam pengembangan teori identitas. Bermula dari teori Castells (2000) yang yang menyebutkan ada tiga teori tentang identitas. Pertama, legitimazing identity, yaitu penguatan identitas yang dilakukan oleh institusi dominan untuk merasionalisasikan dominasi mereka berhadapan dengan kekuatan sosial lain; Kedua, resistansi identitas, yaitu penguatan identitas yang dilakukan oleh kekuatan sosial yang lemah sebagai bentuk usaha mencari pembeda dari (differ from) dan bentuk perlawanan (oppose to) dari kekuatan dominan; Ketiga, proyek identitas, yaitu penguatan identitas dengan merumuskan identitas baru bagi kelompok tertentu untuk menjelaskan posisi mereka dan mengusahakan transformasi ke struktur sosial.

Dalam menghadapi globalisasi, lembaga pendidikan madrasah melakukan resistensi identitas tingkat tertentu. Resistansi identitas tidak berhenti seperti yang di teorikan oleh Castells pada usaha mencari pembeda dari (differ from) dan bentuk perlawanan (oppose to) dari kekuatan dominan saja. Namun, dalam proses kontruksi resistensi identitas pada kasus Madrasah Pembangunan terjadi juga proses pencarian legitimasi-legitimasi baru dalam penguatan identitas. Ini ditandai dengan usaha Madrasah Pembangunan dalam memenuhi Standar Pendidikan Nasional (SNP) dan juga usaha serius madrasah tersebut dalam mengejar standarisasi managemen internasional ISO: 9000.

Usaha mencari legitimasi-legitimasi baru dalam politik resistensi identitas pada madrasah menunjukkan bahwa proses penguatan legitimasi identitas tidak hanya dilakukan oleh kekuatan dominan terhadap yang lemah, melainkan juga bisa terjadi sebaliknya, yaitu kekuatan yang lemah (dalam hal ini madrasah) mencari legitimasi identittas melalui akomodasi-akomodasi beberapa aspek dari kekuatan dominan seperti regulasi yang dilakukan negara dan pasar yang menghendaki output pendidikan yang berketrampilan khas pasar sebagai dampak globalisasi. Namun ujung dari akomodasi-akomodasi ini tidak lain, justru untuk penguatan identitas institusi di antara kekuatan dominan yang melingkupinya.

 

  1. Kesimpulan

 

Penelitian ini berkeimpulan bahwa Madrasah Pembangunan madrasah mampu keluar dari gambaran umum madrasah yang tertinggal dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain yang sederajat adalah karena adanya penguatan identitas di belakang label ‘madrasah’. Label ‘madrasah’ menjadi tantangan awal ketika para pelaku satuan pendidikan mendirikan lembaga pendidikan. Label madrasah menuntut pertanggungjawaban kelompok sosial pendukungnya untuk membuktikan bahwa lembaga ini mampu berkualitas dan berdaya saing. Melalui semangat politik identitasnya, ternyata Madrasah Pembangunan mampu menjadi lembaga pendidikan yang berhasil dan diminati. Madrasah Pembangunan sekalipun lembaga pendidikan swasta, mampu membuktikan diri menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan berdaya saing.

Dalam konteks menghadapi globalisasi, dari fenomena Madrasah Pembangunan, ada dua hal penting yang perlu dilakukan satuan pendidikan menghadapi globalisasi pendidikan, yaitu: pertama, lembaga pendidikan perlu membangun kinerja (sistem kerja) pendidikan yang membekali peserta didik siap menghadapi globalisasi; kedua, lembaga pendidikan perlu melakukan upaya pembangunan image (building image) sedemikian rupa menghadapi bangunan-bangunan image yang berkontestasi yang saling memperebutkan opini dalam menggambarkan citra lembaga pendidikan madrasah. Pada kasus Madrasah Pembangunan, usaha yang dilakukan dalam meningkatkan kinerja kependidikan, lembaga pendidikan ini merancang visi dan misi pendidikan yang lebih fokus. Madrasah Pembangunan mencoba memfokuskan pembelajaran berdasarkan tiga pilar yaitu pengembangan basic sains, pengembangan akhlakul karimah, dan pengembangan bahasa. Usaha pembangunan image dilakukan melalui beberapa cara seperti penggunaan media elektronik seperti tampil dalam acara tv, pembangunan gedung yang megah, kelengkapan kegiatan pendukung.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Appadurai,

1996    Modernity at Large: Cultural Dimension of Globalization, Minneapolis: University of Minnesota Press.

Appel, George N. ,

1985    “Biaya Perubahan Sosial” dalam Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi, Penyunting: Michael R. Dove, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Ardhia, Hedi

2004    “Siapa yang Sepantasnya Mengelola Madrasah. ”Pikiran Rakyat, 24 Agustus 2004

Aronowitz & Henry Giroux,

1985    Education Under Siege. Massachusetts: Bergin & Garvey Publisher, Inc.

Aziz, Abdul

2005    “Kesetaraan Status dan Masalah Mutu Lulusan Madrasah. ”Edukasi. Volume 3, Nomor 1, Januari-Maret

Azra, Azyumardi

2000    Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

2004    “Membandingkan Madrasah”. Republika. 18 Nopember 2004

2005    “Pendidikan Pesantren dan Tantangan Perubahan” (Makalah). PPIM.

2008    “Kebangkitan Nasional Milenium II” dalam Republika, 15 Mei 2008.

Barfield, Thomas,

1977    The Dictionary of Anthropology. Oxford: Blackwell Publisher Inc.

Beynon, John and Daviis Dunkerley,

2000    Globalization: The Reader, London: The Athlon Press.

Bohannan, Paul and Mark Glazer,

1988    High Points in Anthropology, New York: McGraw-Hill

Borofsky, Robert,

1994    Assesing Cultural Anthropology, McGraw-Hill

Burawoy, Michael, et al. ,

2000    Global Ethnography: Forces, Connections and Imaginations in a Postmodern World, California: University of California Press.

Burbules, Nicholas C. and Carlos Alberto Torres

2000    Globalization and Education: Critical Perspective. New York: Routledge

Castells, Manuel

2000    “Globalization and Identity in the Network Society: A Rejoinder to Calhoun, Lyon, and Touraine” in The Information Age: Economy, Society, culture

 

Cresell, J. W.

1994    Research Design: Qualitative & Quantitative Approaches. Thousans Oaks, California: Sage Publication.

Dahriman dan Mahfudh Djunaidi

2002    “Berlaku Adil terhadap Madrasah. ”Suara Merdeka, 12 Nopember

Daradjat, Zakiah

1999    “Pengantar” buku Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Daun, Holger,

Educational Restructuring in the Context of Globalization and National Policy, New York: Routledge.

Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln,

The Landscape of Qualitatif Research: Theories and Issues. London: Sage Publications.

Derrida, J. ,

1984    Of Gramatology (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Spivak, G. C. )Baltimore&London: The JohnsHopkinsUniversity Press.

Djamas, Nurhayati

2005    “Posisi Madrasah di Tengah Perubahan Sistem Pendidikan Islam. ”Edukasi. Volume 3, Nomor 1, Januari-Maret

Djunaidi, Mahfudh

2005    “Empat Hambtan KBK di Madrasah. ”Suara Merdeka, 7 Maret 2005

Fajar, Malik

2005    Holistika Pemikiran Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pers

Fata, Ahmad Khoirul

2006    “Anak Tiri itu Bernama Madrasah. ”Republika, 28 Februari 2006

Firdaus

2005    “Arah Kebijakan Pendidikan di Madrasah dan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum. ” Dalam Analisis Berita Pendidikan: Kumpulan Hasil Analisis. Jakarta: Bagian Data dan Informasi Pendidikan, Kementerian Agama RI.

_____, “Pengembangan dan peningkatan Mutu Guru di Lingkungan Direktorat Kelembagaan Agama Islam. ” Dalam Analisis Berita Pendidikan: Kumpulan Hasil Analisis. Jakarta: Bagian Data dan Informasi Pendidikan, Kementerian Agama RI.

Fortes.

1938    Social and Psichological Aspects of Education in Taleland. dalamAfrica, XI – 4 (Suplemen).

Fox, Ricard G. and Barbara J. King,

2002    Anthropology Beyond Culture, Oxford.

Freire, Paulo,

1981    Educational for Critical Consciousness. New York: Continum

Geertz, Clifford

1973    The Interpretation of Culture, New York: Basic Books, Inc.

Giddens, Anthony

2000    Runaway World: How Globalization Is Reshaping our lives. New York: Routledge.

 

Goodlad, John,

1984    A Place Called School, New York: McGraw-Hill Book Company.

Green, Thomas F. ,

1971    “Citizenship or Certification” dalam Anthropological Perspectives on Education (edit by Murray Wax et al. ), New York, Basic Books, Inc, Publisher

Gunaryo, Achmad

2001    “Madrasah di Era Otonomi Daerah. ”Suara Merdeka, 10 September 2001

Fauzi, Zen

2004    “Mempersoalkan Eksistensi Madrasah. ”Suara Merdeka, 8 Maret 2004

Hammersley, Martyn

1990    Etnografi Ruang Kelas, (penterjemah: Warsono), Philadelpia: Open University Press.

Hansen, Judith Friedman.

1979    Sociocultural Perspectives on Human Learning. Indiana: Prentice-Hall, Inc.

Harris, Marvin,

1975    Culture, People, Nature, New York: Harper International Edition.

Hartono, Yudi

2004    “Strategi Pemberdayaan Madrasah. ”Suara Merdeka, 5 Januari 2004

Hefner, Robert W. and Muhammad Qasim Zaman,

2007    Schooling Islam: The Culture and Politics of Modern Muslim Education. Pricenton: PrincetonUniversity Press.

Held, David & Anthony McGrew.

2003 Globalization/Anti-globalization. Polity Press. Cambridge

Hendra, Faisal

2007Kemampuan Berbahasa Arab Siswa Madrasah Aliyah. Jakarta: Gaung Persada Press

Horton, Donald,

1971“The Interplay of Forces in the Development of a Small School System” dalam Anthropological Perspectives on Education (edit by Murray Wax et al. ), New York: Basic Books, Inc, Publisher.

Inkeles, Alex and Davis H. Smith

1974    Becoming Modern: individual Change in Six Developing Countries,London : Heinebal

Isaacs, Harold R. ,

1993    Pemujaan terhadap Kelompok Etnis: Identitas Kelompok dan Perubahan Politik, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Karni, Asrori S. ,

2010    Etos Studi Kaum Santri: Wajah Baru Pendidikan Islam. Bandung: Mizan.

Kazamias, Andreas M.

2001    “Globalization and Educational Cultures in Late Modernity: the Agamemnon Syndrome” dalam buku Values, Culture and education, oleh Jo Cairns dkk. , Eorld Yearbook of Education.

Keesing, Roger M. ,

1974    “Theories of Culture, ” Annual Reviews of Anthropology.

Kellner, Douglas,

2002    “Theorizing Globalization”, Sociological Theory, No. 20

Kuntowijoyo,

1991    “Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950: Sebuah Pencarian Identitas” dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, Bandung: Mizan.

Lauder, Hugh et al.

2006    Education, Globalization & Social Change. Oxford: Oxforduniversity Press.

Lawton, Denis dan Robert Cowen.

2001    “Values, Culture and Education: an Overview” dalam buku Values, Culture and Education, USA: Stylus Publishing Inc.

Mahmudin

2002    “Siapa Bilang Madrasah Marjinal. ”Suara Merdeka, 29 April 2002

Maksum,

1999    Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta: Logos Wacana Ilmu,

Malik, Jamal (editor)

2008    Madrasah in South Asia: Teaching Terror?. London and NewYork: Routledge

Marcus,

1998    Etnography Throught Thick and Thin, Prencenton, NJ: Pricenton University Press.

Mastuhu,

2003    Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21. Yogyakarta: Safiria Insania Pers.

Maunati, Yekti

2004    Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, Yogyakarta: LKiS.

Menon, M. Govin Kumar

2007    “Globalization and Education: An Overview” in Sorondo (ed. )Globalization and Education. Berlin: de Gruyter.

McGuire, Meredith B. ,

  • Religion: The Social Context, California: Wadsworth Publishing Company

Mudzhar, Atho’

2003    Identity, Religion, Ethnicity, Democracy, and Citizenship. Jakarta: Religious, Research and Development, and Training.

Mulkhan, Abdul Munir

2001    “Dilema Madrasah di Antara Dua Dunia”. Kompas, 23 Nopember 2001

Murtadho

2006, Beberapa Model Penyelenggaraan Madrasah, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Depag RI

2006, Reformasi Madrasah Dan Globalisasi, Jurnal Dialog, No. 61, Tahun xxix, Juli 2006

2009,   Madrasah: Globalization and Identity (Edukasi, No. 3/2009)

Musahadi

2002    “Nasib Madrasah dan Diskriminasi Pendidikan. ”Suara Merdeka, 29 April 2002

Nanji, Azim,

2003    Peta Studi Islam: Orientalisme dan Arah Baru Kajian Islam di Barat. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Ninuk Kleden

2006    “Tanda Budaya Provinsi dan Politik Identitas” dalam Wacana Politik & Budaya di Masa Transisi, Jakarta: LIPI Press.

Pelto, P. J. dan Gretel H. Pelto

1978    Anthropological Research. Cambridge: CambridgeUniversity Press.

Prihadiyoko, Imam

2001    “Pendidikan Madrasah dan Hancurnya Sebuah Otoritas Masyarakat ” KOMPAS, 20 September 2001

Rahman, Fazlur.

1965    Islamic Methodology in History. Karachi: Central Institute of Islamic Research.

Rais, Rahmat

2009    Modal Sosial sebagai Strategi Pengembangan Madrasah. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman,

2007    Teori Sosiologi Modern (terjemah), Jakarta: Kencana.

Rohendi

2005    “Pesantren Moral dan Revitalisasi Madrasah. ”Pikiran Rakyat, 20 September 2005

Saefuddin, Achmad Fedyani.

2005    Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Kencana.

Safa, Helen Ickhen,

1971    “Education, Modernization, and the The Proses of National Integration, ” dalam Anthropological Perspectives on Education (edit by Murray Wax et al. ). New York: Basic Books, Inc,

Saifudin, Muhammad

2004    “Menyoal Kompetensi Kepala Madrasah. ”Suara Merdeka, 12 April 2004

Sallis, Edward

2006    Total Quality Management in Education (Manajemen Mutu Pendidikan), terjemah oleh Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurozi, Yogyakarta: Ircisod

Sanderson, Stephen K. ,

2003    “Sistem Pendidikan dalam Perspektif Sosiologis” dalam buku Makro Sosiologi (terj. ), Jakarta: Rajawali Press.

 

Santosa, Budi

2005    “Keterbatasan Multimedia di Madrasah. ”Suara Merdeka, 5 Maret 2005

 

Shaleh, Abdul Rachman,

2000    Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta: PT Gemawindu Pancaperkasa.

2004    Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi dan Aksi, Jakarta: Rajawali Pers.

Sirozi,

2005    Politik Pendidikan: Dinamika Hubungan antara Kepentingan Kekuasaan dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Smith, Louis M.

1990    “Pendahuluan Yang Kritis: Ke Mana Arah Etnografi Ruang Kelas” dalam buku Classroom Ethnography: Empirical and Methodological Essays, Open University Press, Philadelpia

Sping, Joel H. ,

1989    American Education: An Introduction to Social and Political Aspect (4th edition), Newyork: Longman.

Suparlan, Parsudi

2001    “Penelitian Agama Islam: Tinjauan Disiplin Antropologi” dalam buku Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan Antardisiplin Ilmu, Jakarta: Yayasan Nuansa Cendekia.

Supiana

2007    Sistem Pendidikan Madrasah Unggulan (Disertasi), Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Suprayogo, Imam

2005    “Madrasah dan Masalah Jati Diri Pendidikan Islam”, Edukasi. Volume 3, Nomor 1, Januari-Maret

Supriyanto

2002    “Dekonsentrasi Madrasah. ”Kompas, 11 Nopember 2002

Supriyoko

2004    “Masa Depan Madrasah di Indonesia. ”Media Indonesia, 12 Agustus 2004

Syalabi, Ahmad

1987    at Tarbiyah al-Islamiyah, Nuzumuha, Falsafatuha, Tarikhuha. Kairo: Maktabah al-Nahdah al-Mashriyah.

Tsing, Anna Lowenhaupt

1993    Di Bawah Bayang-bayang Ratu Intan, (terjemahan : AF Saefudin), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Tilaar, HAR. ,

1999    Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Bandung: Rosda Karya.

2007    “Konsep dan Aplikasi Pendidikan Nasional Bagi Peningkatan Mutu dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia. ” Dalam Seminar Nasional di Universitas Negeri Jakarta.

Yakin, Ainul,

2005    Pendidikan Multikultural: Cross Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, Yogyakarta: Pilar Media.

Wallace, Anthony FC. ,

1966    Religion: An Anthropological View, New York: Random House.

Waters, M.

1995    Globalization. London: routledge

William Golden,

1959    Majalah Print

Wolcott, Harry,

1971    “Handle with Care: Necessary Precautions in the Antropology of Schools” dalam buku Anthropology Perspectives on Education, New York & London: Basic Book, Inc.

Yinger, J. Milton,

1970    The Scientific Study of Religion, New York: Macmilan.

Departemen Agama,

Statistik Pendidikan Agama dan Keagamaan, tahun 2007

Renstra Pendidikan Islam 2010-2014

Problematika Madrasah. EMIS Direktorat Kelembagaan Agama Islam, Tahun 2001

[1] Pengakuan formal terhadap madrasah hanya dipandang sebagai konsesi kepada umat Islam saja. Ada gagasan waktu itu (tahun 1960-an) bahwa madrasah suatu saat akan dikelola oleh Kementerian Pendidikan Nasional, dan karenanya perlu dibina dalam rangka integrasi. Tetapi sekitar tahun itu MPRS, tepatnya pada tahun 1960 dan kemudian 1963, menetapkan bahwa madrasah akan tetap berada di bawah Departemen Agama (Steenbrink, 1974: 98-99).

[2] Jika pada masa sebelumnya, madrasah di bawah Kementerian Agama terkesan eksklusif dan cenderung asing, maka pada periode ini lembaga-lembaga pendidikan tersebut sangat intens dalam proses perkembangan dan semakin menyatu dengan pendidikan nasional. Menurut Maksum (1999), ada empat aspek perkembangan di lingkungan madrasah: Pertama,madrasah mengembangkan kurikulumyang memberikan porsi yang cukup besar untuk mata pelajaran non-keagamaan; Kedua, sebagian madrasah menggunakan kurikulum yang dominan berorientasi kepada mata pelajaran keagamaan; Ketiga, banyak madrasah yang memanfaatkan potensi kurikulum muatan lokal untuk mengintensifkan cirri-ciri keagamaan, kejuruan, atau orientasi keilmuan tertentu; Keempat, murid-murid taman madrasah dapat melanjutkan ke sekolah dan perguruan tinggi di lingkungan Depdikbud (Maksum 1999: 2)

[3] Supiana (2008) melakukan kajian pada 3 (tiga) madrasah yang cukup diminati masyarakat, yaitu Madrasah Aliyah Insan Cendekia Serpong, Madrasah Aliyah I Bandung, dan Madrasah Aliyah Darussalam Ciamis. Dari ketiga madrasah itu, hanya Madrasah Insan Cendekia Serpong yang jelas-jelas telah menyebutkan kata internasional sebagai standar pembelajaran.

 

[4] Denis Lawton dan Robert Cowen (2001) telah membuat periodesasi sejarah kecenderungan pergerakan dunia pendidikan, dengan referensi dunia Barat. Menurutnya, secara singkat bisa dipaparkan bahwa kecenderungan pendidikan pada periode awal masih didominasi pandangan agama dan pandangan dunia (sampai abad 19). Periode berikutnya berkembang wacana baru dalam pendidikan bersamaan dengan munculnya fenomena nation state, pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai citizenship dan nasionalisme. Periode berikutnya berkembang wacana pendidikan yang berorientasi ekonomi. Dalam orientasi pendidikan ini sesuai dengan prinsip ekonomi maka dikembangkanlah nilai-nilai efisiensi dan efektifitas. Periode berikutnya, adalah periode tehnologi informasi yang telah melahirkan fenomena globalisasi

[5] Tujuan vocational bertujuan membekali peserta didik untuk kepentingan pekerjaan; tujuan sosial bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik dalam kepentingan kehidupan sosial yang kompleks; tujuan intellectual bertujuan mengembangkan ketrampilan akademis dan pengetahuan; tujuan personal bertujuan mengembangkan tanggungjawab, bakal dan kebebasan ekspresi individu peserta didik.

[6] Dalam memaparkan tulisan ini, Ickhen Safa selain mengutip beberapa teori, dia menggunakan pendekatan komparasi antara dua penelitian kasus tentang posisi pendidikan dalam perubahan sosial. Duapenelitian yang dilakukan oleh Manning Nash (1965), yaitutentang desa tertutup di Amatenango, Meksiko dengan desa Cantel di pegunungan Guatemala. Kajian inimenyebutkan peran penting pendidikan dalam proses ‘nation building’, yaitu : 1) peran penting pendidikan dalam menjembatani antara komunitas tertutup dengan komunitas terbuka; 2) lembaga pendidikan yang berperan sebagai ‘broker’; 3) dalam menjalankan peran pendidikan diperlukan tambahan institusi pendukung pada sekolah; 4) pentingnya dukungan pemerintah.

[7] Dalam masyarakat kompleks, fungsi interdependensi diperankan melalui kelompok-kelompok sosial tertentu, yang disebut Steward sebagai segmen horizontal, dan melalui institusi-institusi formal Negara. Segmen-segmen horizontal itu meliputi kelompok-kelompok pekerjaan, kelas, kasta, ras, atau etnik yang melampau lokalitas dan mengikat komunitas-komunitas itu dalam subkultur-subkultur nasional baru. Institusi-institusi formal Negara itu bisa berupa keuangan, perbankan, perdagangan, sistem legal, tentara, konstitusi agama yang menciptakan masyarakat bersama dalam level nasional.

[8] Menurut Green (1971), dalam konteks ini, pendidikan mempunyai tiga fungsi fundamental: (a) tempat sosialisasi; (b) transmisi kebudayaan; (c) pengembangan identitas individu.

[9] Marshall, G. , (1998). Oxford Dictionary of Sociology. New Ed. , Oxford: OUP

 

[10] Alasan yang melatarbelakangi, bila bernama madrasah maka pembinaan akan berada di bawah koordinasi Kementerian Agama; sedangkan kalau menjadi sekolah dasar Islam maka pembinaan dan pendanaan pendidikan akan berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Nasional. Keuntungan berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, menurut asumsi awal sementara mereka, selain mendapatkan pembinaan yang lebih intens bila dibandingkan dengan bila di bawah Kementerian Agama, juga kemungkinan mendapatkan bantuan pembiayaan lebih besar. Namun prakteknya, gagasan itu ternyata tidak mendapatkan persetujuan sebagian besar panitia pendiri lembaga pendidikan itu.

[11] Dalam konteks ini, menurut penulis, madrasah telah merupakan sebuah realitas kebudayaan tersendiri. Meminjam pengertian yang dikembangkan Clifford Geertz, realitas madrasah adalah sebuah realitas kebudayaan atau simbol yang mempunyai bangunan sistemik sebagai kebudayaan keagamaan.

[12] Tujuan Madrasah Pembangunan yang mengarah pada pembentukan individu: 1) Melahirkan lulusan yang beriman dan bertaqwa dengan kemampuan kompetitif serta memiliki keunggulan-keunggulan komparatif; 2) Mewujudkan siswa yang memiliki keseimbangan antara kekuatan jasmani dan kekuatan rohani serta kepekaan sosial; 3) Mewujudkan siswa yang mandiri dan mampu melakukan teamwork melalui berbagai aktifitas belajar intra maupun ekstra kurikuler.

[13] Tujuan Madrasah Pembangunan yang mengarah pada kelembagaan, terdapat 3 butir, yaitu: 1) Terwujudnya kurikulum yang memiliki kekuatan pada pembinaan keislaman, sains dan teknologi serta apresiatif terhadap kecenderungan globalisasi dengan tetap berpijak pada kepribadian Indonesia dan kemampuan potensi anak (tadinya butir 2 dari tujuan pendidikan MP); 2) Tersedianya tenaga pendidik yang memiliki kualifikasi ideal baik dalam aspek keilmuan, skill keguruan, maupun kemampuan komunikasi global (tadinya butir 3 dari tujuan pendidikan MP); 3) Tersedianya sarana sumber belajar yang dapat memberi kesempatan pada siswa untuk dapat belajar seluas-luasnya, sehingga sekolah benar-benar berfungsi sebagai Center for Learning (tadinya butir ke 4 dari tujuan pendidikan MP).

 

[14] Penting untuk diperhatikan bahwa ciri lain pendidikan madrasah adalah pembinaan jiwa agama dan akhlak anak didik. Inilah yang menjadi identitas sebenarnya dari pendidikan madrasah yang perlu diperhatikan oleh para pengelola dan guru lembaga pendidikan Islam itu. Pendidikan dan pengajaran dalam madrasah harus diarahkan kepada pembinaan keyakinan agama, sehingga hidupnya selalu berpedoman kepada ajaran Islam. Lihat Zakiah Daradjat dalam “Pengantar” buku Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, h. vii.

 

[15] Mastuhu (2003) menyatakan bahwa permasalahan pendidikan dalam konteks globalisasi adalah mampukah praktisi pendidikan menciptakan dan mengembangkan sistem pendidikan yang menghasilkan lulusan-lulusan yang ‘mampu memilih’ tanpa kehilangan peluang dan jati dirinya?Lihat Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21. Yogyakarta: Safiria Insania Pers. 2003, h. 10.

 

[16]Wawancara dengan Myd pada 5 Pebruari 2009

[17] “Sekarang ini, alhamdulillah ada kurang 25 guru yang mulai menggunakan laptop sebagai sarana pembelajaran. Model pembelajaran mulai dikembangkan dengan model pembelajaran yang berbasis multimedia. ” Wawancara dengan Myd , 4 Februari 2009

[18]Kemampuan berbahasa menjadi core buisness ketiga, selain penguasaan sains dan pembetukan akhlak siswa, yang ditawarkan MP terhadap peserta didik. Sebagaimana dalam motto madrasah “Basic Sains, Bahasa dan Akhlakul Karimah. ’

[19]Mengikuti jejak UIN Syaraf Hidayatullah yang merubah logo kampus, MP yang secara sosiologis berada di kawasan serta masuk dalam keluarga UIN turut mengganti logo lembaga pendidikan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: