PESANTREN DAN GLOBALISASI

Abd A’la, Pembaharuan Pesantren, Yogyakarta: LKiS, 2006xvi + 214 hlm.  

Oleh : M. Murtadho*)

Pada halaman belakang sampul  buku ini ditampilkan dua potongan  alenia yang menarik yang menggambarkan kegelisahan intelektual yang ada di balik keheningan pesantren. Alenia pertama, pesantren bukanlah museum purba tempat benda-benda unik dan kuno disimpan dan dilestarikan. Ia juga bukan penjara, di mana setiap tindakan dan pikiran dikontrol serta dikendalikan habis-habisan. Pesantren adalah sebentuk ruang ‘laboraturium’, di mana setiap pemikiran dikaji dan diuji ulang. Alenia kedua, sudah puluhan tahun insan-insan pesantren terdiam tenang di ruangan itu. Seolah ia ‘candu’ yang membuat batin dan pikiran bisa tenang dan nyaman. Bukan! Ia bukan candu! Ia adalah ruang yang sejatinya menggelisahkan. Siapapun yang masuk didalamnya seyogyanya mengajukan sedikitnya satu tanya: bisakah tradisi lama berdialog sehat dengan kekinian kita?   Secara garis besar buku ini terdiri dari  12  sub judul. Sub judul 1 – 5, 11 berisi tentang tema pesantren dan dinamikanya, kemudian 6-9, 11 berisi tentang paham aswaja dengan masyarakat pendukungnya (NU), dan satu sub judul (12) penulis  menawarkan metodologi pemahaman keagamaan.  Buku ini, sesuai dengan pengakuan penulisnya, bukanlah sebagai hasil riset. Namun lebih merupakan kapita selekta beberapa tulisan penulis mengenai tema-tema sekitar pesantren yang sekaligus merupakan kata-kata kunci dalam buku ini, yaitu pesantren, aswaja (ahlusunnah wal jamaah), dan NU. Secara umum, tulisan ini cukup reflektif dan bisa dijadikan bahan rujukan, utamanya tentang tema revitalisasi paham aswaja sebagai benang merah dari keseluruhan isi buku ini. Penulis ingin menawarkan satu pemaknaan baru terhadap paham aswaja yang berbeda dari yang dipahami kebanyakan warga pesantren selama ini.Namun perlu dicatat, bahwa buku ini merupakan usaha pemaknaan kembali (reinterpretasi) dari dalam kalangan nahdliyin mengenai pesantren dengan paham aswaja nya. Menurut penulis buku ini, pesantren dipahami sebagai lembaga pengembang ajaran aswaja ke masyarakat,  hal ini didasarkan klaim bahwa kebanyakan pesantren adalah berafiliasi secara pemikiran keagamaan pada faham aswaja ini.  Untuk pesantren yang tidak mengikatkan diri pada paham pemikiran ini (non-madzhab) tidak menutup kemungkinan mempunyai perspektif yang sedikit berbeda dengan perpektif yang dibangun buku ini. Sebelum membahas transformasi pemahaman aswaja yang terjadi dalam versi penulis buku ini, dunia pesantren, menurutnya,  merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai  nilai-nilai dasar yang kokoh dan yang masih layak untuk tetap menjadi dasar dalam menghadapi tantangan terbesar pesantren saat ini yaitu globalisasi. Nilai-nilai yang dimaksud itu adalah nilai kemandirian, keikhlasan dan kesederhanaan. Ketiga nilai ini dianggap merupakan nilai-nilai yang dapat melepaskan masyarakat dari dampak negatif  globalisasi dalam bentuk ketergantungan dan pola hidup konsumerisme yang lambat tapi pasti cenderung akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan umat manusia (h. 9).Paham aswaja yang menjadi roh komunitas pesantren selama ini untuk menghadapi tantangan global dan kondisi kekinian, menurut penulis buku ini, perlu dimaknai ulang. Aswaja dulu lebih dipahami sebagai madzhab yang menganut imam-imam di bidang fiqh, kalam dan tasawuf (manhaj al qoul). Pemahaman aswaja, dikalangan warga nahdliyin, terkesan dibatasi kepada imam-imam tertentu. Menurut Abd A’la pilihan kepada imam-imam tertentu di bidang fiqh, kalam dan tasawuf ini merupakan suatu pembatasan  dalam upaya memberikan pijakan keberagamaan sesuai dengan kondisi obyektif mereka, di mana mereka kebanyakan masih memiliki keterbatasan dalam memahami ajaran-ajaran agama (h. 88),  selanjutnya mereka diberi pilihan terbuka menyesuaikan  dengan latar belakang keagamaan masing-masing.Pemaknaan aswaja belakangan ini di kalangan nahdliyin telah mengalami usaha pemaknaan ulang. Paham  aswaja yang semula lebih dipahami sebagai manhaj al qoul, artinya pemahaman keagamaan berdasarkan pemikiran imam-imam di bidang fiqh, kalam dan tasawwuf. Dalam proses menghadapi perubahan-perubahan aktual, Abdurahman Wahid menyarankan agar aswaja perlu dipahami secara lebih kreatif dan dinamis. Said Agil Siroj berusaha mengusulkan agar aswaja lebih dipahami sebagai manhaj al fiqr, artinya aswaja dipahami sebagai cara pandang atau pendekatan berfikir dalam melihat persoalan, bukan sebatas kumpulan pendapat keagamaan (manhaj al qoul) masa lalu.  Abd A’la dalam buku ini lebih lanjut menawarkan agar hendaknya aswaja dipahami sebagai sistem nilai, yaitu sistem nilai yang menekankan budaya moderasi, keseimbangan, proporsional dan toleransi (h. 99). Sebagai sistem nilai, aswaja mempunyai peran signifikan  sebagai acuan dalam melakukan analisa sosial, rencana stratgeis dan dalam praksis konkret dengan karakteristiknya yang transformatif  dan lebih integrated, yang dapat menangkap getaran persoalan dan menyentuh inti masalah. Hasil yang diharapkan dari sini adalah lahirnya suatu pandangan yang kritis dan humanistic, serta berkembangnya kebijakan yang dapat membumikan nilai-nilai aswaja dalam kehidupan konkret (h. 100). Paham aswaja ke depan dipahami sebagai cara berfikir  tengah-tengah dari berbagai sikap yang mengarah ke ekstrimitas tertentu. Menurut mereka, paham aswaja mengedepankan konsep tawasuth (moderat), I’tidal (proporsional), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) dalam memandang persoalan. Ideology tengah-tengah ini yang menurut mereka mestinya digunakan dalam melihat semua persoalan, misalnya dalam memandang hubungan antara manusia dan kehidupan, antara ilmu dan teknologi, antara individu dan masyarakat, antara tradisi dan dinamikanya, antara internalisasi dan sosialisasi ajaran (h. 80-81)Dalam konteks social keagamaan di Indonesia, konsep tengah-tengah yang dimainkan ormas penganut  paham aswaja, yakni NU, mencoba mengambil posisi tengah antara kelompok modernis yang cenderung kurang akomodatif  dengan budaya lokal (baca: Muhammadiyah) di satu sisi, di sisi lain kelompok Islam yang cenderung radikal, fundamentalis dan menghalalkan kekerasan dalam menyebarkan pesan agama. Dalam posisi ini, NU ingin memerankan misi budaya moderasi, keseimbangan, proporsional dan toleransi. Abd A’la sempat menyebutkan bahwa potret budaya kekerasan yang dihubungkan dengan NU seperti seperti kekerasan-kekerasan di daerah kantong-kantong NU, kejadian masa yang mengamuk pasca lengsernya Gus Dur sebagai presiden RI, merupakan usaha pihak lain yang ingin mematahkan anggapan bahwa NU adalah agen pluralisme dan toleransi (h. 94). Untuk mereformasi pesantren ke depan, penulis tetap pada pemikiran harus mempertahankan nilai-nilai lama pesantren seperti kemandirian, keikhlasan dan kesederhanaan. Persoalannya adalah bagaimana mengembangkan dan melabuhkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan santri, serta merumuskan ulang dalam konteks kekinian. Strategi dasar yang perlu dilakukan untuk mencapai ke arah itu adalah pengembalian pendidikan ke makna hakiki. Pendidikan perlu diarahkan  sebagai proses penanaman nilai-nilai dan perluasan wawasan serta kemampuan manusia sehingga anak didik benar-benar tercerahkan (h. 10) Dua hal yang menjadi tradisi pesantren yang perlu terus digali, yaitu : pertama, pola pendekatan pesantren yang mengembangkan metode pembelajaran yang lentur dan luwes dalam melakukan transformasi nilai-nilai keagamaan. Terbukti dalam sejarah, pesantren mampu menjadi lembaga perubah dan yang bersama-sama masyarakat terus bertransformasi. Kedua, tradisi keilmuan yang integral, yaitu mempelajari keilmuan yang menyatu misalnya mengkaji fiqih sekaligus melengkapinya dengan tasawuf sehingga melahirkan fiqh yang sufistik. Tradisi ini mestinya bisa dikembangkan juga dalam menjembatani ilmu agama dan ilmu umum (h. 17-18). Dari sini, mengutip Azyumardi Azra,  penulis ingin menampilkan performen ideal pesantren ke depan, yaitu kehadiran pesantren diharapkan bisa menjadi institusi yang mampu memberikan sumbangan penting dan krusial dalam proses transmisi ilmu-ilmu Islam, reproduksi ulama, pemeliharaan ilmu dan tradisi Islam, bahkan pembentukan dan ekspansi masyarakat santri (h. 19).Ke depan persoalannya berpulang pada komunitas pesantren sendiri, khususnya pesantren yang berpaham  aswaja, apakah mereka  dapat  membaca aswaja secara lebih kreatif  dan bertanggung jawab, serta mengembangkannya  sesuai dengan kondisi kekinian. Jika mereka konsisten dengan aswaja, maka mereka akan menjadi kelompok yang relative dewasa dalam hidup dan beragama.  Mereka akan menyadari kekuatan serta kelemahan mereka sehingga mereka dituntut untuk selalu memperluas wawasan, serta dapat menghargai setiap perbedaan, dan meletakkan semua persoalan dalam suasana yang penuh dialogis.  Akan tetapi  jika mereka menjadikan aswaja sebagai symbol (bahkan ‘agama baru’) dan tidak menjadikannya sebagai nilai-nilai yang benar-benar hidup, mereka akan terperangkap menjadi kelompok eksklusif. Mereka lalu mengklaim bahwa kebenaran hanya milik mereka, dan hanya kelompok mereka yang dapat menentukan benar-salah, haq-bathil, dan sebagainya. Inikah yang akan mereka pilih dan akan mereka kembangkan ke depan? Buku ini tidak hanya layak dibaca oleh kalangan pesantren, khususnya pesantren yang menyatakan diri berpaham aswaja, namun juga layak bagi pesantren pada umumnya, bahkan masyarakat luas yang ingin memahami dinamika pemikiran keagamaan yang bernama paham ahlusunnah wal jamaah (aswaja). Gagasan menjadikan pesantren sebagai institusi yang mampu memberikan sumbangan penting dan krusial dalam proses transmisi ilmu-ilmu Islam, reproduksi ulama, pemeliharaan ilmu dan tradisi Islam rasanya perlu disambut baik sebagai usaha memperjelas pengembangan pesantren dalam menghadapi globalisasi.

*) M. Murtadho, Peneliti di Badan Litbang Depag RI, selain itu aktif di komunikasi lintas agama, yaitu Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta dan saat ini sedang menempuh program doktor (S3) Antropologi Universitas Indonesia (UI) Depok, Indonesia

3 Responses to “PESANTREN DAN GLOBALISASI”

  1. PESANTREN DAN GLOBALISASI « Murtadho’s Files « Murtadho’s Files Says:

    […] PESANTREN DAN GLOBALISASI « Murtadho’s Files PESANTREN DAN GLOBALISASI « Murtadho’s Files […]

  2. dipphotograph Says:

    apa buku ini ada di pasaran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: